Zero waste (by Kaka Siska Nirmala)

Pada tanggal 29 Maret 2018, klubOase mengadakan acara workshop tentang zero waste bersama kakak SISKA NIRMALA atau sering dipanggil kak pita.

Kak pita menceritakan pengalamannya tentang bagaimana dia bisa melakukan Zero waste saat ekspedisi naik ke 5 gunung di Indonesia, yaitu gunung Gede, Papandayan, Lawu, Tambora dan Argopuro.

Expedisi ini dimulai dari sebuah rasa kegelisahan beliau dalam melihat permasalahan
sampah yang ada di gunung dan semakin memburuk.Rasa kegelisahan inilah yang mengantarkan kak Pita untuk melakukan pendakian tanpa menghasilkan
sampah ke gunung dalam rentang tahun 2013-2015.

Kak Pita terdorong untuk melakukan aksi ini karena ingin pemandangan Indonesia lebih bersih dan indah. Selain itu lingkungan alam dapat terjaga.
Ekspedisi nol sampah ini tidak sekedar hanya tentang pendakian atau petualangan namun juga untuk menularkan gaya hidup zero waste. Sebuah perjalanan yang mengubah cara pandang tentang kesederhanaan hidup.Menurutku pengalaman yang paling menarik yang dilakukan oleh kak Pita dan teman temannya adalah saat dia melakukan pendakian di gunung Papandayan yang bertepatan dengan momen hari kemerdekaan RI, 17 Agustus. Kak Pita baru pertama kali merasakan upacara bendera di ketinggian gunung. Pengalaman menarik lagi saat mendaki di gunung Pangrongo, disana kak Pita bertemu dengan satpam yang terheran heran karena kak Pita membawa banyak sekali tempat makan dan tidak satupun membawa makanan berkemasan yang di bungkus plastik yang berpotensi sampah.Kiat kiat paling penting dalam expedisi nol sampah adalah sebagai berikut :

Makanan yang dibawa, tidak menghasilkan sampah
Contoh: sayur,buah, dan daging sapi atau ayam yang sudah di masak.
Roti ( usahakan langsung beli di toko biar tidak memakai kemasan plastik),
Biskuit dan kue dipindahkan ke wadah plastik.

Manajemen air, satu pendaki membawa minimal 2 botol air minum @ satu liter. Hampir disetiap pos pendakian ditemukan mata air. Botol bisa diisi air.

Fisik dan mental harus kuat karena perjalanan pendakian tidak mudah dilalui.

Sampah organik bisa ditimbun didalam tanah.

Jika membawa plastik sebaiknya dibawa pulang kembali.

Jika membawa makanan instan tidak menggunakan plastik.

Bisa membawa bekal timbel lontong, atau buras isi kacang.

Untuk menambah stamina, sebaiknya membawa bekal dodol manis.

Satu benda yang harus di hindari adalah tissue basah karena airnya banyak mengandung zat kimia. Sebaiknya
selalu membawa sapu tangan.Setelah mendengar cerita dan pengalaman kak Pita, aku semakin tertarik ingin mendaki gunung tanpa sampah.
Alasannya selain senang dengan hal yang berbau alam seperti pendakian, aku juga sudah terbiasa memilah sampah organik dan non organik. Sampah organik yang ada dirumah ditimbun didalam tanah sehingga menjadi pupuk yang membuat tanah menjadi subur.
Sedangkan sampah non organik, kami satukan untuk dibuang ke tempat sampah yang dibawa petugas sampah di perumahan.
Terkadang sampah bekas botol aku buat karya kreatifitas.

Dengan melakukan pendakian zero waste, tentu menambah perbaikan gaya hidupku ke arah yang lebih baik lagi.Hal yang paling menantang jika aku melakukan pendakian dengan nol sampah adalah tentu akan terasa berat karena hal ini baru pertama kali aku lakukan karena belum terbiasa.

Semoga dengan pelatihan gaya hidup sederhana ini akan menambah kemampuanku dalam membantu alam semesta ini untuk terus tersenyum. Terimakasih sudah membaca šŸ˜Š

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s